Senin, 14 Juli 2008

Ketidaktahuan atau Sok tahu??

Aku tertarik dengan tulisan dari salah seorang teman di Jkt. Tentang keputusan Halaqah Alim Ulama berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi dan penanggulangan HIV/ AIDS.
Kalo menurut gw seh ini memang merugikan temen-temen homoseksual. Gimana gak? Para alim ulama yang 'sok tahu' tentang siapa homoseksual, selalu menge-cap mereka sebagai sosok yang salah... Hmpf... menurut gw seh gak adil.... ^_^

Coba deh temen-temen yang baca blogs gw, pakai badan kalian untuk menjadi pihak di luar pihak kalian untuk mengerti dan mengetahi bagaimana mereka sebenernya.... Menarik loh....

Inilah tulisannya....

Pendahuluan:

1. Definisi kesehatan reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental
dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan
dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya
kondisi bebas dari penyakit atau kecacatan.
2. Menjaga kesehatan reproduksi meliputi empat komponen:
- kesehatan reproduksi remaja
- Kesehatan ibu dan anak
- Pengaturan jarak kelahiran
- HIV/ AIDS
3. Diantara faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi adalah
penyakit menular seksual (PMS) diantaranya yang paling berbahaya
adalah HIV/ AIDS.
4. HIV (Human immunnodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS.
Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan orang
yang terinfeksi HIV menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit
yang dapat mengancam hidup, termasuk kanker.
5. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sindroma
menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang
mengidap AIDS sangat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit
karena sistem kekebalan di dalam tubuhnya menurun.
6. Menurut catatan Ditjen P2PL Departemen Kesehatan RI sampai dengan
31 Desember 2007 tercatat 11,114 kasus AIDS dan 6.066 infeksi HIV.
Proporsi kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (54,05%),
kelompok umur 30-39 tahun (27,96%) kelompok umur 40-49 tahun (8,03%)
7. Virus HIV terdapat pada semua cairan tubuh manusia, tetapi yang
menjadi media penularan hanya ada pada:
- Darah
- Cairan sperma (air mani)
- Cairan Vagina
- Air susu ibu (ASI)
8. Penularan HIV/ AIDS dapat melalui:
- Homoseksual
- Hubungan heteroseksual yang tidak aman
- Jarum suntik yang dipakai secara bergantian
- Ibu hamil penderita HIV/ AIDS kepada janinnya
- Dan transfusi darah

Keputusan Halaqah Alim Ulama tentang Kesehatan Reproduksi dan
Penanggulangan HIV/ AIDS ini ditetapkan pada tanggal 4 April 2008
dengan ditanda tangani oleh para ulama-ulama sbg berikut:
1. KH.M. Cholil Nafis, MA
2. Ahmad Zubaidi, MA
3. DR. Faizah Syibromalisi (MUI Pusat)
4. KH. Noor Syu'ib Mundzir (MUI DKI Jakarta)
5. Dr. H Sugiat (Muhammadyah)
6. H. Ramlan Marjuned (Dewan Masjid Indonesia)
7. KH. Zaki Anwar (PBNU)
8. KH Aewani Faizal (PBNU)
9. Atok R. Musthofa M.Si (PBNU)
10. Dr. Mustafid Dahlan (PBNU)
11. M. Zainuddin Daulay (PKUB)
12. Dra. Fadillah Ahmad (Muslimat NU)

Catatan:
Dari definisi ini jelas bahwa para Ulama yang merumuskan buku ini
menganggap Homoseksual menjadi penyebab penularan HIV/ AIDS,
sedangkan Hubungan heteroseksual dianggap beresiko jika aktivitas
seksualnya dikatakan sebagai tidak aman

Kamis, 10 Juli 2008

Suratku Kepada Tuhan....

Tulisan ini harusnya gw post tgl 8 Juni 2008

Tuhanku....

Ku tlah pasrahkan segala hidupku pada-Mu, Allahku. Ku tlah serahkan jiwa dan ragaku untuk Kau beri secercah cahaya kehidupan bagiku. Ku tlah relakan dia untuk kukubur bersama masa laluku, dan inginku mengawali kehidupan baruku. Tuhan, kini aku mengalami suatu kebimbangan yang luar biasa besar, dan seolah enggan untuk kukendalikan. Ataukah aku yang enggan untuk beranjak dalam kenikmatan ini, dan beralih pada sebuah penderitaan? Tidak, itu bukan penderitaan, melainkan awal dari kehidupanku yang baru. Betapa sulit untukku beranjak, karna terlalu nikmat di sini, terlalu sayang jika kutinggalkan, terlalu manis untukku mencampakkannya. Namun aku harus berdiri, dan menemukan siapa diriku. Untuk menjadi seorang yang tak mudah tertiup angin.

Tuhan, bagaimana ketika aku tak mampu lagi bangkit? Karna tempat ini terlalu empuk untuk kubiarkan kosong. Dan aku kini menempatinya. Mengisi sofa empuk yang seharusnya bisa kunikmati nanti setelah aku tidur dengan alas tikar saja. Namun, aku bersyukur, tak perlu lagi aku memakai tikar untuk alas tidurku, karna aku tlah memiliki kasur busa kesayanganku, yang siap menyangga punggungku ketika ku mengeluh lelah.

Hm.... konflik yang cukup memberatkan otakku ketika berpikir. Aku tidak harus mencampakkan waktuku hanya untuk berpikir hal bodoh, dan berkhayal yang tak mungkin jika aku tak melakukan apapun. Aku memang harus berdiri dari kekosongan ini. Bangun dari mimpi indahku, dan hadapi dunia nyata. Hanya ada satu yang dapat menolongku, Tuhan!! Ya.... Dia yang Maha Kasih yang mampu membantuku untuk keluar dari lingkaran setan yang mungkin kini telah menguasai langkahku. Tuhan... Ya... Dia yang mampu mengajari aku mengerti kasih sayang melalui kekasihku. Sehingga aku bisa merasakan sejuknya udara pagi dan segarnya air yang membasuhku ketika ku mandi. Betapa dia berkuasa!! Dan tak ada yang mampu menandingi kuasa Allah!

Tuhan, sekali lagi aku tlah pasrahkan hidupku pada-Mu. Ku persilakan pada-Mu untuk membukakan jalan terbaik bagi hidupku kelak. Dan aku hanya hamba-Mu yang bisa melakukan apa yang Kau pinta.

Hm.... Aku hanya mohon satu hal pada-Mu, Tuhan! Persatukan hati dan pikiranku untuk mendekat pada-Mu. Agar ku mampu melewati halangan yang seringkali kujumpai dalam perjalanan kehidupanku. Persatukan hati dan pikiranku agar aku tahu, bahwa Kau tak kan mungkin memberikanku sebuah cobaan yang aku tak bisa melewatinya. Aku percayakan itu semua pada-Mu, Tuhan! Aku percaya! Kasih sayang-Mu tak kan pernah lari dan berhenti untukku kan?


Love,

Dj PuBby


Kekasih Kecilku.....



Aku mencintainya layaknya anakku sendiri. Aku menghidupinya. Aku memberikan sebagian waktuku hanya untuk mengurusnya, mengajaknya bermain, memandikannya.

Kekasih kecilku yang sudah mulai bisa menggigitku.

Kekasih kecilku yang sudah mulai bisa mengenal siapa aku.

Kekasih kecilku yang sudah mulai mengerti keberadaanku, maupun Matahariku.

Kekasih kecilku yang selama beberapa hari ini menyita sebagian perhatianku untuknya.

Aku bertemu dengannya ketika aku dan Hatiku menyusuri jalan di depan BIP. Mataku tertuju pada seekor anjing kecil yang terlihat muram dan mengharap ada sepasang tangan menggendong dan mengelus punggungnya yang *mungkin* kesakitan karna tuan lamanya dengan sembarangan memperlakukan dirinya.

Iseng kutanya harga anjing itu.

“Dua ratus dua lima, Teh. Boleh ditawar kok, ” sahut si Penjual.

Aku menawar tujuh puluh lima ribu. Dan aku ditertawai oleh si Penjual itu. Lalu aku iseng menanyakan anjing jenis apa yang aku pegang ini. Ia menjawab, “Foxbermenn, Teh.”

Memang, aku tidak memperhatikan jenis anjing apa ini sebenarnya. Tidak terlalu penting bagiku. Yang menjadi perhatianku adalah, ketika anjing kecil yang kupegang ini ternyata tak mau lepas dari genggaman. Ia justru lebih dekat... dan lebih dekat dalam pelukan. Entah karna dinginnya malam, ataukah memang ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, dan menyelamatkan diri. Dan aku ingin menyelamatkannya dari ancaman yang *mungkin* akan datang ketika aku tidak jadi membelinya.

Hm... Aku berpikir, akan ditempatkan di mana anjing kecil ini, kalau nanti aku sudah berhasil mendapatkannya dari menukarkan dengan sejumlah uang? Aku telephon si Botak, teman kampusku. Ia bersedia membatuku. Dan terjadilah persetujuan itu. Aku menukarkan sejumlah uangku untuk mendapatkan anjing kecil itu, dan tepat pada waktunya Botak datang menemuiku. Dan aku akhirnya membawa anjing kecil itu dengan kardus kecil yang kubeli di jalan. Aku membawanya ke Lengkong, tempat si Petet, teman Botak. Di tempat Petet pula kami menamakan anjing kecil itu Rambo. Dengan harapan ia akan sekuat tokoh Rambo dan tidak lagi penyakitan. Setelah bermain sekian lama di sana, aku membawanya pulang ke Jatinangor dengan motor dan Hatiku.

Hm... Perjuangan yang sedikit melelahkan ternyata. Botak membawa Rambo ke tempat Nobeng, salah satu teman dekatnya. Botak mengatakan bahwa Nobeng menjanjikan sepetak tempat penampungan sementara untuk Rambo. Aku sedikit lega, karena aku tidak perlu repot lagi menjelaskan pada anak-anak kosku tentang keberadaan Rambo di kamarku.

Hm... Namun kenyataan berkata lain. Dan mungkin aku mulai kecewa. Rambo tidak lagi di tempat Nobeng, karna dengan berbagai alasan Botak menjelaskannya padaku. Rambo ada di tempat Botak. Dan mungkin aku pun sedikit berterima kasih padanya, telah menyediakan tempat yang walaupun terlihat kotor dan menjijikkan untuk Rambo. Setidaknya aku tidak perlu repot menjelaskan pada anak-anak kosku tentang keberadaan Rambo jika ia di kamarku.

Hm... Aku memutuskan untuk membawanya pulang ke kos. Karna aku tidak tahan lagi ketika Botak memberikan alasan yang menurutku tidak masuk akal. Lebih baik aku membawa Rambo bersamaku dan Hatiku. Semalaman Hatiku tak keluar kamar, untuk menjaga Rambo, membersihkan kotoran dan muntahannya di kamarku. Dan kamarku pun mendadak berubah menjadi seperti kandang yang bau. Jujur, aku sedikit merasa menyesal mengapa aku membelinya dan membawanya bersamaku. Namun kini ia adalah tanggung jawabku. Dan aku mencintainya. Mencintainya sebagai kekasih kecilku, seperti anakku sendiri.

Rambo.. Satu-satunya binatang yang bisa membuatku menangis. Satu-satunya binatang yang membuatku sadar betapa berat perjuangan orang tua membesarkan anaknya. Aku memutar pikiranku. Otakku berusaha mencari jalan keluar, di manakah seharusnya Rambo ada? Hm... Fannie... temanku sekelas di kampus Psikologi bersedia ketika aku mengatakan ingin menitipkan Rambo di rumahnya. Oh God! Sepertinya aku sedang kehausan dan akhirnya aku menemukan sumber mata air yang menghilangkan dahagaku. Aku menangis.... Menangis karna akhirnya aku menemukan apa yang aku inginkan. Menangis karna akhirnya Tuhan memberiku jalan.

Aku bergegas ke rumah Fannie ketika ia memberiku kabar bahwa ia sudah berada di rumah. Aku dipinjamkan kandang yang pernah ia beli untuk Dixie, anjing kecilnya yang ia beli dari tempat yang sama ketika aku membeli Rambo. Bersyukurlah aku, Tuhan! Semua karna-Mu, Tuhan!

Dan kini, terhitung mulai tanggal 31 Mei 2008, Rambo kutitipkan di rumah Fannie. Dan aku harusnya sadar, tidak ada yang gratis di dunia ini. Paling tidak aku ikut membayar air yang paling banyak aku pakai untuk membersihkan kandang itu dan memandikan Rambo.

Ehm....

Kekasih kecilku yang sudah mulai bisa mengigitku.

Kekasih kecilku yang sudah mulai bisa mengenal siapa tuannya.

Kekasih kecilku yang sudah mulai mengerti keberadaanku, maupun Matahariku.

Kekasih kecilku yang selama beberapa hari ini menyita sebagian perhatianku untuknya.

Rambo... Dia yang menyadarkanku bagaimana aku bertanggungjawab atas anakku kelak. Dia yang membuatku belajar arti tanggungjawab dan kasih sayang.

I Love You Rambo......

AOP dua hari

Hm.... Kayaknya jadi OP enak yak... tinggal kick sana sini orang-orang yang gak bertanggungjawab di suatu forum. Yah... itu yang aku alami sekarang. Aku diberi tanggungjawab untuk jadi AOP. Baru dua hari aku *dilantik (ciyeee bahasanya...) sama temenku Chocco. Dan aku berharap bisa menjalankan kewajiban dan amanah itu dengan baik.
AOP di channel itu tidak ada gaji. Hanya menuntut kerjasama dan komitmen sebagai orang terberi....
Aku tidak memandang apakah pekerjaanku ini digaji atau tidak. Aku hanya memandang caraku belajar untuk menjadi sosok profesional. Mungkin ini awal dan tolak ukurku untuk belajar. Yah.... santai... tapi... menegangkan... Itu menurutku.
Aku harus belajar beberapa command Mirc dan mempraktekkannya di channel itu. Aku menjaga channel itu bersih dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Hm... sepertinya terlihat asik. Yah.. memang asik... Mengasyikkan... Kick... Del... Ignore... dll... Yang kadang di suatu titik nanti, aku menjadi seseorang yang menyebalkan... Mungkin... Who knows... ^_^

Hidup memang indah....

Minggu, 29 Juni 2008

Buaya pun Menjilati Kakiku

Jika dipikir-pikir, akan sulit untuk dilakukan, ketika buaya harus berlaku jinak dengan manusia. Hm... tapi mungkin ini hanya sebuah metafor yang kubuat untuk menceritakan bagaimana ketika aku merasa dapat membuktikan dan memberi pelajaran berharga untuk orang lain, dan khususnya untuk diriku sendiri.

Aku bukan lagi manusia bodoh yang dapat ditipu. Bukan lagi seorang anak kecil yang tak tahu menahu harus berkata apa tentang keadilan. Sebuah keadilan yang sangat jarang untuk dapat diungkapkan dengan mudah. Penuh perjuangan, penuh tak tik, penuh intrik, dan ada kalanya seorang yang menjunjung tinggi keadilan harus mengorbankan sesuatu yang ia sayangi, walaupun menyakitkan.

Hm.....
Begitu juga denganku, aku rela kehilangan kepercayaan dari teman dekatku, yang menurutku memang sudah kronis. Ia perlu belajar dari kesalahannya sendiri. Ia perlu tahu di mana batas kesalahan yang ia buat untuk mengerti bagaimana perasaan orang lain. Namun apa yang ia lakukan? Denial dan Manipulatifnya masih terlalu besar untuk diturunkan derajatnya. Aku balik yang diserang... Aku balik yang dikatakan manipulatif dengan menggunakan intrik syndrom hero yang ia katakan ada padaku.
Hm...
Syndrom Hero? Aku tak mengerti syndrom yang seperti apakah yang ia artikan sebagai syndrom hero. Aku hanya bisa tertawa dalam menanggapi rengekannya di SMS yang saling kami kirimkan. Berharap aku akan mudah untuk ia taklukkan dengan segala manipulasinya. Ups... Maaf... Aku bukan Tyas yang dulu lagi.... atau aku bukan Sarce yang dulu lagi.... Kalau dia memanggilku Sarce....
Sarce yang ia kenal sekarang, adalah Sarce yang selalu sensitif dengan keganjilan. Sarce yang selalu reaktif ketika ada perlakuan aktif namun ceroboh. Hm... Mungkin aku tidak sepenuhnya sempurna dari perlakuan yang aku perbuat. Namun ketika aku tidak sempurna, aku sadar, ketidaksempurnaan yang mana yang bisa merugikan orang lain, dan aku mengantisipasinya.

Aku memang bukan keluarganya, bukan Mamaknya, bukan Bapaknya, bukan Pacarnya, dan bukan pula Konsultannya. Aku hanya seorang teman yang bereaksi ketika ada teman lain yang membutuhkan bantuan secara tersirat. Walaupun aku tahu, ia bisa membantu dirinya sendiri. Aku tahu, ia sangat pandai. Saking pandainya, sikap manipulatif yang ia lakukan pun makin lama makin kronis.... Aku hanya ingin, cukup!!! Cukup aku saja yang merasa rugi atas sikapnya. Jangan orang lain. Itu saja. Aku hanya ingin ia berubah.

Namun... Sepertinya badannya yang bebal tidak mengindahkan perkataanku. Justru balik mencercaku. Sebagai seorang yang berkepala batu, dll, yang nantinya akan merugikan kekasihku sendiri. Oh Tuhan..... Aku selalu meminta bantuan-Mu untuk menyadarkan aku, bagaimana aku bersikap terhadap orang lain. Dan untungnya aku selalu sadar ketika aku mulai merugikan orang lain. Namun sayangnya pula, aku menjadi terlalu tinggi 'self-blamming'-nya, sehingga aku harus rela mengorbankan sedikit waktuku untuk merenung karna kesalahan yang aku buat.

Hehehehe........
Dan aku berani bilang, bahwa Sang Buaya yang tadinya memberontak ketika kuikat moncongnya dengan tali, sekarang pun mulai menjilati kakiku untuk meminta maaf atas kesalahan yang ia buat. Tentang gigitannya yang sempat menyakitkan hatiku.

Dalam peristiwa ini, aku pun jadi sadar, bahwa sifat emosionalku tidak selamanya menyebabkan hal buruk terhadapku. Bahkan mungkin bisa menjadi alat untuk menyadarkan orang lain dari kesalahan terbesarnya. Walaupun aku harus berani pula mengambil resiko untuk kehilangan seseorang. That's My Choice.... ^_^
Namun aku pun juga harus menjaga agar sikap emosionalku menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukan lagi sesuatu yang merugikan diriku.

Hm.........
Indahnya Dunia-ku T_T

Mahasiswa Bermasalah??! Seperti apa definisinya??

Aku menulis blogs ini ketika pagi hari menjelang aku bertemu dengan Sang Harimau Kelaparan.... kira-kira pukul 05.00 aku menuliskan blogs ini.

Aku berada dalam sebuah keadaan yang membuatku merasa terhimpit dalam kekesalan, dan tak mungkin lagi terbendung. Aku meluapkan tangisanku tengah malam ini. Aku lelah... ketika terus menerus merasakan ketidakadilan. ...

Psikologi Manajemen... .
Entah bagaimana aku harus mengungkapkan, bahwa aku amat sangat terpukul ketika harus mengulang mata kuliah ini yang ke-4 kalinya di semester 10. Aku selalu dianggap gagal untuk melewati mata kuliah yang satu ini. Padahal aku merasa bahwa aku selalu taat aturan. Aku tidak pernah sedikitpun melawan komitmen dan kontrak belajar yang pernah disepakati bersama dengan dosen. Hm.... Sebuah pengalaman yang menurutku paling pahit selama 3 semester berturut-turut. Bayangkan!! 3 Semester berada pada kelas yang sama!! Hufh... Sungguh, aku lelah. Aku dianggap bodoh. Aku dianggap sebagai seorang mahasiswa yang bermasalah. Aku dianggap SAMA dengan mahasiswa lain yang tingkah lakunya lebih 'unorganized' daripada aku. Aku dianggap tidak pantas lulus dari Fakultas Psikologi, hanya karena aksi protesku terhadap dosen.

Hm....
Sungguh... Apa yang salah dalam diriku? Apa yang salah dalam hidupku? Sehingga aku selalu terperosok dalam lubang yang sama, lubang yang di dalamnya bersarang seekor harimau lapar dan singa kesepian yang seolah-olah berlomba-lomba untuk menyantap dagingku, merobek-robek dadaku, mengkoyak isi perutku, menghisap darahku ketika haus, mempermainkan kelaminku untuk mempermalukanku di depan umum. Atau yang lebih parahnya lagi, mereka sungguh senang apabila berhasil menelanjangiku di hadapan orang lain. Sungguh senang apabila ketika aku malu di saat aku telanjang.

Harimau lapar.....
Dia sama sekali tidak menghargai pendapatku, bahkan tidak menerima ketika aku mengajukan protesku atas ketidakadilan yang terjadi, tidak menerima itikad baikku apabila aku mengajukan alternative jalan lain yang kutempuh, ketika satu jalan terputus. Hm... Apa pantas dia disebut sebagai Dosen? Apa pantas dia disebut sebagai Psikolog? Apa pantas dia disebut Dosen Psikologi? Dia menyebutku sebagai mahasiswa bermasalah, yang disamakan dengan sebutan dia kepada salah satu mahasiswa yang notabene lebih tua dariku, yang kelakuannya lebih amburadul dariku. Hm.... Analisis macam apa itu???!!! Kalau dia mengatasnamakan Psikologi sebagai suatu hal untuk mengerti seseorang, apakah bisa disebut dia sebagai seseorang yang mengerti orang lain?!

Singa Kesepian....
Entah di mana teman seperjuagannya. ... Ataukah dia butuh teman angkatan lama dan akhirnya merealisasikan keinginannya dengan cara mempertahankanku di kelasnya? Hm... Sungguh irrasional alasan yang terucap ketika aku tidak lulus pada mata kuliah itu. Entah, apa yang harus aku lakukan lagi untuk keluar dari 'dunia' yang ia buat. Sungguh sangat menyiksa, dan aku benar-benar muak! Muak dengan Singa Kesepian yang menolak keberangkatanku menuju gerbang kelulusan!!!
UFh.....

Mereka berdua menuntut mahasiswa di kelasnya untuk patuh terhadap peraturan. Aku mematuhinya. Aku menuruti peraturan dan kontrak belajar yang kita buat. Namun apa?! Ketika ada keganjilan yang terjadi, aku mengajukan protes, Sang Harimau terlebih dahulu menerkamku dan memberikan ancaman ketika aku melakukan itu. Sang Harimau yang di mata mahasiswa lain adalah seorang Harimau yang Cantik, Berwibawa, Anggun.... Huhm... Buatku itu tidak ada sama sekali pada dirinya.... Di mataku ia adalah seorang Harimau LICIK yang berkedok kecantikan.. ..


Huwah!!!!
Mungkin ini sangat subjektif dalam penilaianku. Tapi aku hanya mencoba untuk mengungkapkan isi hatiku, tentang kekesalanku terhadap ritme yang terjadi. Ritme yang sungguh membuatku ingin muntah!

Hari ini, jumat 27 Juni 2008 pukul 10.30 aku membuat jadwal untuk menemui Sang Harimau. Ia memintaku untuk datang memberikan klarifikasi tentang protesku kemarin. Tentang seorang mahasiswa yang dengan santainya tidak masuk dan tidak ada surat izin sakit selama lebih dari 3x pertemuan, kenapa ia bisa ikut UAS? Hm... Sepertinya aku harus sedia tameng untuk menahan semua peluru yang ia tembakkan (atau hujan buatan yang keluar dari mulutnya? , berarti aku hanya harus siap sedia payung donk.... )


Yup...... Aku harus siap dengan semuanya, dan harus fokus!!
Teman..... Tolong aku..... Aku sudah lelah dengan hal ini

Ingin rasanya aku cepat-cepat lulus dari Fakultas Psikologi kita tercinta dan membuktikan pada Sang Harimau Lapar itu, bahwa aku memang layak untuk menyandang gelar S.Psi secepatnya.. ...

Selasa, 24 Juni 2008

Percakapanku dengan Bun.....(Marbun Lho, bukan BuNnie... ^_^)

Ehm...Yang aku bisa tangkap dari percakapanku adalah..... "Besok2 kalo dia minta sesuatu ma lo.. lo udah tau kan apa yang jadi pertimbangan..."

Yah... hari ini adalah puncak di mana kekesalanku pada si bocah itu terjadi.... Mungkin awalnya begitu terlihat sempurna apa yang dia ucapkan... Alibi yang dia kecohkan kepadaku, dan aku mempercayainya... Namun belakangan... Aku mulai curiga ada yang tidak beres di sini.... Hm... sebuah kecurigaan yang pada akhirnya mendatangkan pemikiran negatif. Bagaimana bisa aku berkata bahwa dia jahat padaku? Bagaimana bisa aku mencurahkan isi hatiku tentangnya pada Bun? Hm... sesuatu yang sangat jarang terjadi...

Tapi bagiku, hal ini adalah wajar, ketika aku merasa begitu dikecewakan oleh seseorang yang aku percaya....
Unorganized.... Amburadul.... Selalu pandai untuk menjadikan segala hal sebagai alibinya... Waw... ck ck ck.... kepribadian macam apakah itu? Tidak baik untukku terlalu cepat memberikan judgement... Harus kutelaah dulu mengapa hal ini terjadi... apa motivasi di balik ini semua? Kenapa selalu berulang... Hm..... Okey.... ketika aku mendapatkan jawaban dari Bun... bahwa hidupnya penuh dengan drama...

Waw... it's so interesting!!! Tapi drama apakah yang terjadi? Haruskah ku tahu? Dan kenapa aku ingin tahu? Kalau kata Udin... jawabannya akan kutemukan sendiri... tanpa ada orang lain yang memberiku pengaruh..... Mungkin benar juga aku pasti akan tahu jawaban itu dengan sendirinya... tapi buat apa?! Untuk apa aku mencari jawaban itu? Sebegitu pentingkah untukku?


Oh tidak!!! Aku cukup merasa tersiksa dengan bertautannya hidupku dengannya.... Dia begitu seperti anak kecil yang sengaja mencari perhatian sana sini untuk hidupnya. Sedangkan aku? Aku hanya menjadi penonton dari drama yang ia buat.... Tanpa tau awal dan akhir dari drama itu.... Hm.... Sebegitu pedulikah aku dengannya? Untuk apa?! Yang jelas, aku sudah merasa terganggu ritme hidupku hari ini dengan adanya perlakuannya.... Perlukah aku bilang padanya? Mengucap sesuatu yang belum tentu dia mengerti? Dan akan menjadi tambah ruwet ketika aku berhadapan dengannya... Hanya karena alibi-alibi yang ia buat.... Hm... sungguh menantang... dan mungkin aku tertantang.... Tapi untuk apa aku merasa tertantang? Untuk hidupku kah?? Mungkin... Atau hanya untuk pelampiasan emosiku saja??


Kata Marbun... "Kalo gw sih, bakalan bilang.. masalahnya dia udah ngerepotin orang juga sih.. dan juga ngerepotin dirinya sendiri..." Memang benar.... aku harus meluangkan waktu untuk ngobrol dengannya.... Berbicara dari hati ke hati tentang apa yang sebenarnya terjadi.... Karena memang sudah bersinggungan dengan hidupku yang kata Marbun sama banyak masalahnya dengan 'someone cant be called his name'... Hm..... Mungkin aku akan melakukannya lain waktu... Ketika hatiku benar-benar adem... Ketika pikiranku benar-benar jernih untuk hal ini.... Dan aku akan mencobanya...... Kalau kata Marbun sih.... "lagian sarche gitu loh.. masa gini aja ga bisa" Sempat menjadi semangatku untuk lebih bisa dewasa dalam menyikapi permasalahan ini.... Okey Bun.... Let's try... And i've got the winner in this game.... Haha......